Cari Blog Ini

Rabu, 01 Februari 2012

Remaja dan Perilaku Menyimpang : Korban dari Perubahan Zaman?

Sebuah adegan yang tak lumrah terekam melalui video handphone. Medio April 2008 sekelompok remaja putri menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala—organ vital yang menentukan masa depan setiap orang.
Dari dialog yang terrekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota geng yang bernama Nero (Neko-neko Dikeroyok). Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya –seperti layaknya hormat bendera—seorang temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menjotos tepat di hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Sebuah pertunjukan yang paling banter bisa ditemui di atas ring tinju. Namun pertunjukan yang satu ini lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, beredar pula rekaman video melalui handphone tentang seorang remaja puteri yang dianiaya oleh sekitar lima remaja puteri lainnyakorban dipukuli bergantian, diinjak-injak, lalu ditarik rambutnya oleh seorang remaja putri lainnya sampai berguling-guling ke tanah. Adegan ini disaksikan oleh beberapa orang di sekitarnya tanpa ada seorang pun yang mencoba melerainya.
Jika berbicara tentang kekerasan, kita mendapati ketakwajaran yang jadi lumrah—terutama akhir-akhir ini. Kekerasan banyak dijumpai di ruang publik (di jalan raya, perumahan, kampus dan tempat kerja) maupun ruang privat (di keluarga atau dalam rumah). Freudian menjustifikasi sebagai potensi bawah sadar yang dibawa oleh setiap orang. Ketakwajaran yang belum lagi lumrah adalah kekerasan ini dilakukan oleh perempuan dan pada saat usia pelaku baru menginjak remaja. Perempuan merupakan sosok yang identik dengan pribadi feminin. Tentang kepribadian feminin, Lips (2005) memaparkan ciri-cirinya yakni penuh kasih sayang, simpatik, jentel, sensitif, pengasuh, sentimental, mampu berhubungan sosial dan koopertif. Berbeda dengan ciri kepribadian maskulin yang kompetitif, dominan, petualang, berani, agresif dan resisten terhadap tekanan. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja putri di atas lebih cenderung menunjukkan pribadi maskulin daripada feminin. Dalam hal ini, perilaku yang ditunjukkan tersebut disamping tidak wajar secara perilaku juga tidak normal jika ditilik dari sudut pandang pelaku.
Perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat biasa disebut perilaku menyimpang. Disamping kekerasan seperti yang dilakukan remaja putri di atas, ada banyak perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dan makin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut antara lain penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), perilaku seksual sebelum menikah, premanisme di kalangan pelajar dan sebagainya.
Masa remaja : berdayung di tengah badaiMasa remaja adalah usia yang niscaya dilewati oleh setiap orang dewasa. Masa ini akan menguji setiap orang bahwa tidak selamanya hidup dilewati dengan perjalanan yang mulus dan lurus. Mungkin si pejalan yang remaja itu tahu lurusnya jalan. Namun, menjalani tidak semudah hanya mengetahui. Seorang pedayung yang hendak menuju suatu pulau mungkin tahu arah jalannya dan mungkin tahu ada badai di depan, tapi tidak semua pedayung bisa melewati badai dan sampai pada tempat yang dituju. Masa remaja adalah masa yang penuh badai dan tidak semua orang bisa lolos melewati masa-masa itu.
Ada minimal tiga badai yang akan mengguncang masa remaja ini. Pertama, badai otoritas. Pada masa ini remaja cenderung bersikap dependen. Remaja akan banyak diterpa oleh otoritas-otoritas lain yang mampu memengaruhi sikapnya. Independensi didapat melalui penghargaan atas otoritas orang tua, teman sebaya, guru maupun orang yang dituakan. Kedua, badai rangsang emosi. Remaja menunjukkan emosi yang labil sehingga mudah dipengaruhi oleh rangsang emosi di luar dirinya. Remaja akan terdorong bertindak agresif hanya dengan dipanas-panasi oleh teman sepermainannya. Ketiga, badai ego. Remaja cenderung menunjukkan keakuannya pada orang lain. Kebutuhan untuk diakui bisa menjerat remaja pada tindakan yang dilarang oleh norma. Dengan kata lain, remaja bisa saja melakukan tindakan yang melanggar norma asal dirinya bisa diakui oleh orang lain. Tiga badai di atas sangat memungkinkan remaja terantuk pada posisi oleng : melakukan berbagai perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada di masyarakat.
Pada zaman ini, ada badai besar yang bisa menggulung siapa saja yang tidak cakap mengendalikannya, yakni badai informasi. Memang, tidak hanya remaja saja yang akan terpengaruh oleh badai informasi ini. Tapi, badai informasi akan melengkapi ancaman tiga badai seperti tersebut di atas. Ciri adanya badai ini adalah makin tidak terbendungnya arus informasi seiring dengan makin mudah didapatnya teknologi informasi. Remaja bisa dengan mudah memamah informasi tentang apapun. Bisa dipastikan, hampir semua remaja di kota sudah familier dengan handphone, bahkan bisa berganti-ganti model sesuai tren terbaru. Internet sudah bisa diakses sampai ke pelosok, dimana saja dan kapan saja. Internet menyediakan beragam informasi dan pengetahuan sesuai kebutuhan penggunanya hanya dengan satu dua kali menekan tuts keyboard. Televisi menjadi penyedia layanan informasi yang paling banyak dikonsumsi, terlebih banyak handphone yang sudah memiliki fasilitas gambar hidup itu. Media cetak beragam jumlahnya dan mampu memenuhi beragam hobi dan minat setiap orang.
Derasnya informasi yang mengalir ke segala penjuru ruang sosial di masyarakat tentunya akan memengaruhi pengguna informasi itu. Informasi yang dikenyam akan memengaruhi cara pandang, sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan seseorang. Sebagai misal, belajar tidak harus tatap muka langsung dalam kelas tapi bisa dengan jarak jauh via internet (e-learning). Berdiskusi tidak harus bersua langsung tapi bisa lewat mailinglist. Belanja tidak harus ke supermarket tapi tapi dapat dilakukan dalam kamar dengan menggunakan jasa belanja online. Berkirim kabar tidak lagi harus pakai surat via pos tapi bisa langsung pakai layanan pesan singkat (sms) atau e-mail.
Alvin Toffler dengan lugas menjelaskan pengaruh (teknologi) informasi terhadap perilaku seseorang. Menurutnya, setiap jenis teknologi melahirkan lingkungan teknologi (teknosfer) yang khas. Teknologi informasi sebagai bagian dari teknosfer akan mewarnai infosfer –yakni budaya pertukaran informasi di antara warga masyarakat. Infosfer pada gilirannya akan membentuk dan mengubah sosiosfer—yakni norma-norma sosial, pola-pola interaksi dan organisasi kemasyarakatan. Karena manusia adalah makhluk sosial, perubahan sosial akan memengaruhi perilaku dan proses mental seseorang—yakni mengubah psikosfer orang-perorang (Rakhmat, 2004). Dari itu bisa dimengerti bahwa perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh beragam arus informasi yang melingkupinya.
Badai informasi pada kalangan remajaApa yang bisa dijadikan dalih bahwa kekerasan yang dilakukan remaja dipengaruhi oleh tayangan kekerasan dalam televisi? Mungkin butuh penelitian yang cermat tentang hal ini. Namun, bila merujuk teori konstruktivisme, beragam tayangan kekerasan dalam televisi tidak bisa dianggap remeh, apalagi disisihkan alih-alih menampik tidak ada hubungannya dengan kekerasan yang dilakukan remaja. Sikap dan perilaku remaja dikonstruksi dari informasi yang didapat dari lingkungannya. Sementara televisi suda jadi media yang tidak mungkin dilepas dari keseharian masyarakat, didalamnya tersaji banyak tayangan yang kurang mendidik bahkan banyak diwarnai adegan kekerasan. Informasi selebriti mengabarkan kekerasan : perceraian maupun kekerasan yang dilakukan antarartis. Berita di televisi bertabur kekerasan: perselisihan antarwarga kampung, perbedaan pandangan antarorganisasi masyarakat, perseteruan antarpendukung pilkada, penggusuran paksa maupun demonstrasi yang berujung bentrok fisik. Film tidak enak dinikmati tanpa adegan kekerasan, bahkan film-film yang diputar di televisi kita sebagian besar dari Hollywood yang penuh adegan kekerasan. Sinetron-sinetron banyak mengisahkan kekerasan fisik maupun psikis (fitnah, dendam, iri, munafik). Acara dialog dan diskusi di televisi makin berani mengumbar kekerasan psikhis dengan cara saling menyudutkan dan saling memancing amarah.
Jika kekerasan ini tampil mengisi ruang dan waktu seseorang tanpa ada reaksi penolakan, ada saatnya kekerasan dianggap sebagai kejadian yang lumrah adanya. Kekerasan tidak bisa lagi ditolak sebagai perilaku yang melanggar norma karena sudah diwajarkan oleh sebagian besar masyarakat. Saat kita menikmati adegan kekerasan bahkan memengaruhi dan mengubah cara kita memandang kekerasan, pada dasarnya kita telah mengalami desensitisasi sistematis. Yakni proses yang secara sistematis memungkinkan seseorang mewajarkan sesuatu karena sesuatu itu muncul berulang-ulang. Kekerasan akan dianggap wajar jika hal itu muncul secara berulang-ulang dan seakan diterima di masyarakat sebagai realitas biasa.
Norma-norma sosial makin terbuka untuk dipengaruhi bahkan diubah. Dengan mudah norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu akan diadopsi oleh norma-norma di masyarakat lain. Mode pakaian yang baru muncul di Perancis dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat di kota kecil. Di Jember setiap tahun diadakan Jember Fashion Carnaval (JFC), yakni karnaval keliling kota dengan menggunakan mode pakaian kontemporer. Mode pakaian dapat dinikmati di sudut-sudut kota di Jember, tanpa perlu pergi ke Perancis. Melalui internet, siapa saja bisa berinteraksi dan menemukan ruang interaksi sosialnya. Minat, bakat, pandangan hidup, gaya hidup, pilihan profesi bahkan orientasi seksual pun bisa terjalin intens lewat internet. Orang dapat berinteraksi dan bertukar pikir tanpa perlu banyak tahu latar belakang lawan interaksinya. Dalam hal ini, komunitas yang terjalin dapat membangun norma-norma sendiri, bahkan lepas dari norma yang umum berlaku di masyarakat.
Korban yang harus dibela
Perubahan zaman menuju era informasi memiliki andil besar dalam membentuk sikap dan perilaku remaja. (Teknologi) informasi yang tidak terkendali peran dan fungsinya turut memengaruhi pola perilaku remaja yang abai terhadap norma yang berlaku. Artinya, perilaku menyimpang tidak hanya semata-mata bersumber dari remaja itu sendiri. Tapi, adanya perubahan zaman secara potensial bisa memacu remaja bersikap dan berperilaku di luar batas normativitas. Keterbukaan informasi dan komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mungkin bukan satu-satunya sebab, tapi ini merupakan salah satu sebab yang menentukan. Lebih menentukan lagi karena, satu sisi informasi menyerang deras ke relung hidup sampai yang paling privat dan sakral, pada sisi lain remaja kurang memiliki kemampuan otonom dalam memilih normativitas sikap dan perilaku. Lagi, satu sisi lembaga penyedia informasi menghantam keras ruang hidup di ranah publik, di sisi lain lembaga-lembaga yang memiliki otoritas norma dan ajaran agama di masyarakat semakin melemah.
Dalam menanggapi remaja dengan perilaku yang menyimpang akan lebih bijaksana jika tidak semata-mata menempatkan remaja sebagai ‘tersangka’. Mungkin ya, bahwa perilaku menyimpang remaja tidak akan muncul jika tidak ada perilaku yang ditampilkan remaja itu sendiri. Tapi mungkin juga tidak, bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipengaruhi pula oleh lingkungan yang melingkupinya. Lingkungan di sekitar remaja seperti katalisator yang memungkinkan remaja berperilaku menyimpang. Dalam hal ini remaja ditempatkan sebagai korban dari lingkungannya. Maka, tidak ada empati yang bisa ditunjukkan kepada korban selain dengan cara membela korban. Bagaimana pembelaannya?
Pertama, menciptakan lingkungan yang mampu membentuk remaja pada kesadaran normatif yang otonom. Dengan harapan, remaja mampu menentukan pilihan perilaku menurut pertimbangannya sendiri dengan bersandar pada norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini remaja diharapkan memiliki kecerdasan normatif, yakni kemampuan remaja dalam menentukan sikap dan perilaku apapun dengan tetap mengindahkan norma-norma. Kedua, menguatkan lembaga-lembaga yang memiliki otoritas norma. Lembaga-lembaga tersebut diharapkan mampu menopang norma-norma yang ada sekaligus menyesuaikannya sesuai dengan perubahan zaman. Disini peran keluarga sebagai lembaga yang memiliki otoritas norma sungguh penting. Mengingat, keluarga merupakan lembaga pertama dan utama yang mengenalkan remaja pada norma-norma. Tidak kalah penting dari keluarga adalah sekolah. Pada institusi sekolah inilah keluarga turut menumpukan harapan. Sekolah adalah institusi yang sengaja dibuat untuk mendidik remaja agar bisa bersosialisasi di masyarakat dengan baik.
Jika kita benar handak membela, indikasinya bisa bermula dari yang sederhana saja : kita merasa, perilaku menyimpang remaja, seperti kekerasan yang dilakukan remaja putri di atas, benar-benar menggelisahkan kita. Ini hanya sebagai pengganti kata-kata yang terkesan retoris: kita merasa, perilaku tersebut sungguh-sungguh mengiris-iris hati nurani kita. Tegal-Jakarta, 19 Juni 2008
keyword: kenakalan remaja ppt, gambar perubahan sosial budaya, contoh perilaku menyimpang di masyarakat, remaja ppt, masa remaja ppt, gambar kenakalan remaja, artikel kenakalan remaja ppt, masalah remaja ppt, contoh gambar perubahan sosial budaya, kepribadian yang menyimpang dari remaja, perilaku menyimpang, contoh perilaku menyimpang pelajar, gambar prilaku menyimpang, gambar perubahan sosial, contoh perubahan sosial dalam kehidupan sehari-hari, gambar perilaku menyimpang, PERILAKU REMAJA SAAT INI, pelanggaran norma agama di kalangan remaja, contoh perilaku menyimpang, artikel perilaku menyimpang dalam masyarakat, kenakalan remaja, perilaku menyimpang remaja, perilaku remaja sekarang, contoh gambar perubahan sosial, perilaku menyimpang remaja sekarang, sifat-sifat manusia sanguin, contoh gambar kenakalan remaja, pengertian perilaku remaja, peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam membentuk perilaku remaja, perubahan zaman

NOMINASI UJIAN NASIONAL TH. PELAJARAN 2011 / 2012

NOMINASI UJIAN NASIONAL
SMP NEGERI 3 BULUKERTO
TH. PELAJARAN 2011 / 2012
















NO NIS NISN NAMA SISWA TEMPAT LAHIR TANGGAL LAHIR SEX NAMA ORANG TUA
01 938 9976099975 AAN WONOGIRI 10 APRIL 1997 L SARTO
02 991 9976110317 HARI PRASETYO WONOGIRI 16 JULI 1997 L SADIMIN
03 980 9976099993 AGUS SUSILO WONOGIRI 24 NOVEMBER 1997 L JAFAR SUMARLAN
04 1009 9976110331 RIAN PRASETYA WONOGIRI 30 DESEMBER 1997 L TARTO
05 1006 9985994898 PITRI SULARSIH WONOGIRI 8 JANUARI 1998 P PAIMIN
06 967 9966270546 RIYA DWI ANJASMORO WONOGIRI 9 DESEMBER 1996 L JUMADI
07 972 9966270308 SULISTYANINGSIH WONOGIRI 4 JULI 1996 P TUKIYO
08 958 9976110313 LARSO WONOGIRI 11 APRIL 1997 L SAMIDI
09 1010 9976110316 RIKI APRIANSYAH WONOGIRI 10 JUNI 1997 L SUJONO
10 983 9976110234 ARYANI RISYANAWATI WONOGIRI 18 JULI 1997 P KASIMUN
11 988 9976110064 DIAN UTAMI WONOGIRI 26 OKTOBER 1997 P SARIJO
12 982 9966270524 ANITA NORMA NOFIANTI WONOGIRI 17 NOVEMBER 1996 P MARIDI
13 963 9976110315 MURTIANI WONOGIRI 14 MEI 1997 P SATAR
14 1017 9966270391 WAHYU JUMADI WONOGIRI 8 SEPTEMBER 1996 L JAIMIN
15 981 9966270301 ANDI AGUNG SAPUTRO WONOGIRI 31 JULI 1996 L SIRAN
16 985 9966270298 BUDIYANTO WONOGIRI 16 JUNI 1995 L SUCIPTO
17 945 9976110247 DENI SUPRIYADI WONOGIRI 22 FEBRUARI 1997 L SARNO
18 950 9976110058 EKO PRASETYO WONOGIRI 24 JULI 1997 L DARNO
19 992 9966270544 HARSI WONOGIRI 19 SEPTEMBER 1996 P KARDI
20 946 9976110325 DEVI NOVITA SARI WONOGIRI 10 NOVEMBER 1997 P MARIMIN
21 939 9966270535 AHMAD RIFKI WONOGIRI 10 APRIL 1996 L SUTRISNO
22 993 9976099978 HARTANTI PUSPITA DEWI WONOGIRI 12 MEI 1997 P RIMIN
23 954 9966270310 ERWIN SULISTIYO WATI WONOGIRI 15 OKTOBER 1996 P SUKIJO
24 1004 9976099982 NITASARI WONOGIRI 12 JUNI 1998 P KATNI
25 1007 9966270622 RESTI YOGA PRATAMA WONOGIRI 19 OKTOBER 1996 P PRIWIBOWO
26 969 9966270300 RIYANTI WONOGIRI 22 JULI 1996 P TARJO
27 973 9985994881 SUSI UTAMI WONOGIRI 11 JANUARI 1998 P SETU
28 961 9976110211 LOS0 WONOGIRI 8 MARET 1997 L JAIMAN
29 999 9976110053 NANIK SUNDARI WONOGIRI 2 JUNI 1997 P WARNO
30 984 9966270522 ASEP SANTOSO WONOGIRI 17 OKTOBER 1996 L SUTAR
31 957 9966270613 JOKO SUSILO WONOGIRI 5 MEI 1996 L SARMIN
32 027 9976110233 RINA SAPUTRI WONOGIRI 12 JULI 1997 P SENO
33 1001 9966270521 NIKO ANANTO WONOGIRI 23 SEPTEMBER 1996 L SURATNO
34 978 9976110046 WIDIA NINGSIH WONOGIRI 12 MARET 1997 P SIKIT
35 1099 9974492321 ANGGARA NUR IRHAM WONOGIRI 7 FEBRUARI 1997 L LASIMIN
36 943 9976110217 CIPTO WONOGIRI 17 MEI 1997 L TARNO
37 947 9966270530 DEWI LESTARI WONOGIRI 17 JANUARI 1996 P SULARNO
38 951 9976110062 EKSI WONOGIRI 29 AGUSTUS 1997 P SUDIR
39 994 996270514 HERIYANTO WONOGIRI 9 FEBRUARI 1996 L KASIDI
01 1005 9966270528 PARTO WONOGIRI 5 DESEMBER 1996 L SEMO
02 1014 9976110306 TRI PRAYITNO WONOGIRI 2 JANUARI 1997 L MIJO
03 903 9976099980 LILIS SETIAWATI WONOGIRI 8 JUNI 1997P SIDI
04 975 9976099976 TRISNIATI WONOGIRI 20 APRIL 1997 P JAIMO
05 976 9966270395 TUTIK WONOGIRI 11 OKTOBER 1996 P TARSONO KIMAN
06 1011 9976099979 RINA PURNIAWATI WONOGIRI 9 JUNI 1997 P TUKIMIN
07 970 9976099985 RUSMIYATI WONOGIRI 14 JULI 1997 P TUKIYO
08 974 9976110307 TRIANA ROMADONI WONOGIRI 25 JANUARI 1997 P SARNO
09 1003 9966270315 NINGSIH ASTUTI WONOGIRI 14 FEBRUARI 1996 P SUKIMIN
10 1002 9976110048 NINA WONOGIRI 18 MARET 1997 P SARIJO
11 949 9976110051 DIKA SURYANTO WONOGIRI 28 APRIL 1997 L EDI HARSONO
12 962 9966270523 MULYADI AGUS NUGROHO WONOGIRI 7 OKTOBER 1996 L SUNAR
13 959 9985995026 LILA FEBRIANTI CANDRA WIDURI WONOGIRI 7 FEBRUARI 1998 P KARTONO
14 955 9976110208 FAJAR HARI UTOMO WONOGIRI 9 JANUARI 1997 L KATNO
15 1018 9976110056 YULIANA SAPUTRI WONOGIRI 26 JUNI 1997 P SARDI
16 940 996270517 ASRORI WONOGIRI 7 AGUSTUS 1996 L SULAR
17 986 9976110225 DANANG PRIYAMBODO WONOGIRI 26 SEPTEMBER 1997 L SUYANTO
18 948 9976110052 DIDI DWI CAHYONO WONOGIRI 20 MEI 1997 L GIMIN
19 953 9976110324 ERNI SRILESTARI WONOGIRI 28 OKTOBER 1997 P SISWANTO
20 995 9976110061 HUYUNG WONOGIRI 17 AGUSTUS 1997 L TARMIN
21 1000 9976110310 NIA RATNA SARI WONOGIRI 22 MARET 1997 P TARNO
22 996 9956233912 JAIMO WONOGIRI 7 OKTOBER 1995 L KIMAN
23 997 9976110308 MEYGANIA SEKAR TAJI BEKASI 3 MEI 1997 P SUTARJI
24 965 9976110327 RIKI WONOGIRI 23 NOVEMBER 1995 L TRIMAN
25 968 9985994884 RIYAN ADITIYA WONOGIRI 27 JANUARI 1998 L PAIMAN
26 1012 9976110049 RISKI APRIYANTO WONOGIRI 6 APRIL 1997 L KARMO
27 971 9976110050 SUGIYATI WONOGIRI 11 APRIL 1997 P KATNO
28 1015 9976099986 TRIYATMI WONOGIRI 15 JULI 1997 P WIRKONO
29 964 9966270519 PANCA RISKA WONOGIRI 24 SEPTEMBER 1996 L GITO GATI
30 998 9976099984 MILA AYUSARI WONOGIRI 1 JULI 1997 P LANJAR
31 952 9976110309 ENDRA PRATAMA WONOGIRI 16 MARET 1997 L KARNO
32 1016 9966270620 TRIYONO WONOGIRI 12 AGUSTUS 1996 L WARSINO
33 1013 9945770260 SARIYATI WONOGIRI 24 JULI 1994 P WAGIYO
34 956 9966270383 HERI IRAWAN WONOGIRI 13 MEI 1996 L KARSONO SARIP
35 990 9960545458 EKO WIDODO YULISTIYO WONOGIRI 2 FEBRUARI 1996 L SUKAT
36 941 9976110057 AYU YULIANI WONOGIRI 4 JULI 1997 P TINO
37 944 9966270618 DANANG SAPUTRA WONOGIRI 25 MEI 1996 L TARMIN
38 989 9976110319 DWI NINA NURCAHYANING PUTRI WONOGIRI 22 AGUSTUS 1997 P MARIMAN